TUTUP!!! Klik 2x...

Bertanya Besok Makan Apa Adalah Bentuk Penghinaan Pada Tuhan

Sebagian waktu kemudian, keluarga kecil kami ‘ambruk’ hingga keuangan betul - betul habis. saking habis nya, jiwo makan nasi hanya sama kecap. pada puncaknya, sembari menangis, aku marah sama tuhan. mengapa ia yang maha kaya tega membiarkan anak aku makan hanya sama kecap?

***

ambruk ini bukan tanpa sebab. pas dikala pindah rumah, kami kena permasalahan yang betul - betul di luar ditaksir. duit wajib kami keluarkan hingga angka jutaan rupiah dan juga kami gak dapat apa - apa tidak hanya berupaya ikhlas. ikhlas memandang rupiah terakhir kami melayang begitu aja tanpa tau kapan dan juga gimana kami dapat menemukan gantinya.

satu malam, aku memeluk suami demi menghalau kerasa lapar. tinggal dekapan yang kami memiliki. aku tanya, esok kita ingin makan apa? satu rupiahpun sudah gak terdapat.

suami aku malah senyum. ia ingat sujiwo tedjo, seniman nyeleneh itu sempat bilang “bertanya esok makan apa merupakan wujud penghinaan pada tuhan”. kurang ingat kalimat nyatanya, intinya begitu. trus suami aku nyemprot, kan kalian yang senantiasa bilang gusti maha kaya. udah gak memiliki gusti sampe cemas gak dapat makan gitu?

atheis amat sederhana
aku diem. besoknya sembari memandang magic jar, aku nangis. aku malu banget sama tuhan. biarpun gak terdapat lauknya, biarpun hanya sama kecap, tetapi itu magic jar belum sempat kosong. senantiasa terdapat isinya. aku malu banget karna tampaknya, aku dan juga keluarga masih makan. tuhan gak sempat satu haripun kurang ingat mengisi tempat nasi kami, gak sempat satu haripun membiarkan kami kelaparan hingga sakit. abis nangis aku ngakak, mengapa nangis depan magic jar, mak?

sorenya, aku bersihin rumah. inspeksi recehan. aku kumpulin uang logam yang suka dimainin jiwo, kembalian - kembalian receh yang suka nyebar di tiap sudut rumah. aku kumpulin, trus aku ke warung membawa seplastik uang logaman. dapet separuh batang tempe, 4 butir telur, dan juga sebagian biji bawang putih.

tempenya aku buat sambel bejek, modal cabe boleh metik depan rumah dan juga bawang putih yang sebagian biji itu. berasnya boleh ngutang di warung eyang emak (kapan - kapan aku hendak cerita tentang dia, nenek keren, dunia wajib tahu! ). jiwo aku dadarkan telur.

makan malam bertiga. aku dan juga suami nasinya dibanyakin supaya kenyang, tempenya diirit - irit karna hanya jadi seuprit. itu sambel tempe amat nikmat dalam hidup aku. kami makan sembari ketawa - ketawa, ngetawain hidup, sembari merasakan masakan yang penuh kerasa senang. makan malam amat elegan, terlebih liat di piringnya jiwo tidak hanya nasi dan juga kecap, terdapat telur dadarnya. alhamdulillah.

***

sehabis hari itu, aku menyudahi marah sama tuhan. aku terima dengan bahagia hati anak aku hanya makan sama kecap, gak apa - apa, yang berarti masih makan. toh hanya hingga dini bulan, sehabis gajian, kami dapat makan whatever lagi. dapat beli tempe satu batang penuh, gak butuh separo. dapat beli bawang putih satu ons, gak lagi sebagian biji. di atas itu seluruh, keluarga kami masih utuh dan juga senang whatever makannya. gak sempat satu kalipun jiwo keluhan mengapa di piringnya cuma kecap lagi kecap lagi, ia masih riang, itu lebih dari cukup.

kami menempuh hari - hari dengan setengah tawa setengah ngenes, senang walaupun wajah wajib malu situ mari karna pinjem duit kemana - mana. mabok ikan cue 2500 dapet 3 ekor, karna tiap hari menunya itu lagi itu lagi. dengan minyak goreng yang hingga gelap karna seperti itu minyak terakhir yang kami memiliki.

tetapi kami hepi, kami jadi lebih banyak bersyukur buat perihal kecil. cabe depan rumah berkembang 2 biji saja, kami syukuri banget. dapat makan pedes lagi, yes. nemu bawang sebutir di kulkas, kerasanya seperti nemu martabak keju susu toblerone. uang 2ribu perak di kantong celana, kami kumpulkan demi ikan cue yang tiap hari itu. dan juga yang jelas, aku jadi gak sempat lagi nanya “besok makan apa? ”. aku tidak sempat lagi takut soal rejeki. karna aku masih yakin gusti, dan juga gusti aku maha kaya. ia yang belum sempat meninggalkan kami satu haripun.

saat ini seluruhnya membaik, jiwo sudah dapat makan sayur, makan ayam, terlebih lagi foya - foya di warung makan. tuhan menemani kami melewatinya. hidup kami sudah berjalan serupa sedia ketika. lebaran qurban kemarin, kami mampu daging sapi satu toples dari bunda. kami girang banget, satu minggu penuh makan daging terus hingga sakit gigi, gak sedikitpun daging itu tersisa. kerasanya terharu masih dapat makan daging, teringat hari - hari dimana jangankan daging, baunya aja kami jauh sekali. saat ini kami makan kecap, gunakan daging. semur yang amat amat amat nikmat, alhamdulillah.






(sumber: sujiwo. com)



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

ads
Diberdayakan oleh Blogger.

Total Tayangan Laman