TUTUP!!! Klik 2x...

MELAWAN LUPA, Metro TV dan Media Indonesia, Media Propaganda by @eae18

Idealisme senantiasa aja jadi tameng kalangan jurnalis. seolah - olah dengan mengusung idealisme, dia dapat bicara apa aja soal laporan dunia. tetapi benarkah dalam arus hidup yang penuh gejolak dikala ini, idealisme masih dipegang teguh kalangan jurnalis?

ayo ambil contoh faktual terhadap 2 media, metro televisi dan juga media indonesia. menyedihkan sekalli memandang kenyataan metro televisi dan juga media indonesia. 2 media mainstream kepunyaan surya paloh ini, sudah tidak sanggup berjalan pada titik rel suatu media, yang sepatutnya jadi penggalan dari wacana publik.

memandang dan juga membaca 2 media itu, publik tidak lagi memiliki hak buat menerima berita dengan benar. seluruh suguhan beritanya menyodorkan aroma kebencian kepada pihak yang berseberangan terlebih lagi menyerangnya dengan melampirkan berita - berita condong fitnah dan juga ghibah.

pada titik ini, metro televisi dan juga media indonesia sudah masuk dalam perangkap media propaganda. berita yang digulirkan senantiasa aja memperingati propaganda si owner, surya paloh. dengan kekuasaannya, 2 media tersebut mendikte, membentuk opini dan juga menggiring publik masuk dalam perangkap berita yang disebar. dampaknya, publik juga hanyut dalam perangkap berita 2 media tersebut.

sejatinya sudah lama, metro televisi dan juga media indonesia jadi media propaganda. propaganda yang sudah tidak jadi rahasia, merupakan kerutinan 2 media kepunyaan juragan asal aceh itu, memojokkan islam. berita - berita islam dikebiri. fakta - fakta ditutup rapat.

media tim dan juga kebencian ke islam

contoh permasalahan pada berita soal rohis. pada 5 september 2012, metro televisi mengadakan diskusi dalam program metro hari ini berbarengan narasumber guru besar universitas islam negara jakarta profesor dokter bambang pranowo, mantan kepala tubuh intelijen negeri hendropriyono dan juga pengamat terorisme taufik andri.

dalam diskusi tersebut profesor bambang pranowo mengantarkan hasil penelitiannya kalau terdapat 5 pola rekrutmen teroris muda. salah satunya lewat ekstrakurikuler di masjid - masjid sekolah. dikala diskusi berlangsung, disiarkan informasi grafik berisi poin - poin 5 pola rekrutmen tipe profesor bambang pranowo.

metro televisi dengan gagah berani membikin infografik dengan label awas, generasi baru teroris. suatu kalimat yang amat menohok untuk generasi islam. pada pertemuan di rumah profesor
fachry ali, aku mempertanyakan soal label awas, generasi baru teroris kepada profesor bambang pranowo. profesor bambang mengurai kalau metro televisi telah melaksanakan fitnah karna pribadinya tidak sempat menuliskan awas, generasi baru teroris.

contoh di atas cuma fakta kecil, gimana metro televisi sarat kebencian ke islam. kebencian kepada islam ini benar amat beralasan bila memandang jejak rekam sejarah pemimpin redaksi metro televisi tidak sempat diduduki dari golongan muslim.

kebencian lain terhadap islam yang diuar metro televisi kala permasalahan sandriana malakiano. metro televisi dikecam publik karna melarang sandrina malakiano menggunakan hijab pada dikala siaran, walaupun sandrina sudah memperjuangkannya sepanjang berbulan - bulan dengan mengajak jajaran pimpinan tingkat atas metro televisi berdiskusi panjang, senantiasa ditolak. larangan inilah yang menimbulkan sandrina keluar dari metro televisi pada mei 2006.

di tepi lain, media indonesia juga sama. tulisan laporan ini sempat berulang kali disomasi organisasi - organisasi islam karna berita - berita yang disebar menguar kebencian terhadap islam.

media indonesia benar semenjak dahulu dipahami 4 sekawan yang statusnya non muslim, saur hutabarat (pula regu sukses bidang media, pemenangan jokowi - jk) , elman saragih, andy f noya dan juga laurens tato. 4 sekawan ini menjadikan media indonesia bagaikan corong kristenisasi dengan cara - cara samar tetapi amat nampak jelas jejaknya. sedangkan metro televisi dikendalikan pemimpin redaksinya putra nababan, putra tokoh senior pdip panda nababan yang pula terpidana permasalahan suap cek pelawat dalam pemilihan deputi gubernur senior bank indonesia, miranda s goeltom.

dan juga pada pilpres 2014, berulang metro televisi dan juga media indonesia jadi perlengkapan propaganda kampanye capres joko widodo. partai politik sudah mengerangkeng begitu jauh program pemberitaan metro televisi dan juga media indonesia. inilah resiko bila para pemodal, owner stasiun tv sekalian jadi kamerad partai politik. tv jadi banal karna bermacam kepentingan masuk di dalamnya. kepentingan yang tidak memiliki tali temali dengan segmen berita.

lalu, apa yang dapat diharapkan dari metro televisi dan juga media indonesia bila sudah direduksi oleh kekuasaan di luar pagar pribadinya? reduksi senantiasa mengambil alih hak individu, ruang privat ke dalam ruang kolektif. mungkinkah ruang kolektif itu masih dapat mengambil kedudukan berbarengan soal hak publik?

05 juli 2014
penulis: wartawan senior edy a effendi, kepala program lauh mahfuz institute
sumber: inilah | indonesiapers





(Sumber: http:// www. portalpiyungan. com/2016/11/melawan-lupa-metro-tv-dan-media. html)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

ads
Diberdayakan oleh Blogger.

Total Tayangan Laman