TUTUP!!! Klik 2x...

Di Antara Rezekimu, Ada Rezeki Orangtuamu

Ssore itu ummu hamid kembali dengan risau. dia baru ingat. hari itu bertepatan pada 18, hari terakhir jatuh tempo pembayaran cicilan rumahnya. dia tau tentu, dana yang terkumpul dari pendapatannya dan juga suami amat terbatas.

walaupun “hanya” kurang 2 ratus ribu rupiah, senantiasa aja ummu hamid pening dibuatnya. karena dana yang lain tidak dapat diganggu lagi dengan keperluan berubah.

sembari menunggu kepulangan suami, ummu hamid menelpon ibunya. sudah jadi kebiasaannya teratur menghubungi orangtua semenjak dia masih kuliah dulu.

tiba - tiba dia kaget. kiriman dana bulanan buat dan juga bapaknya -  ayah dan juga bundanya' href='ibu dan juga bapaknya'>ibu dan juga bapaknya bapaknya'>ibu dan juga bapaknya nyatanya belum ditunaikan pula.

sepanjang ini, ummu hamid turut menanggung konsumsi listrik, air dan juga bermacam keperluan dan juga bapaknya -  ayah dan juga bundanya' href='ibu dan juga bapaknya'>ibu dan juga bapaknya bapaknya'>ibu dan juga bapaknya . dia terasa terdapat beberapa pengeluaran tidak terduga yang melampaui keuangan keluarganya.

pernah terbetik buat acuh. toh dia masih mempunyai kerabat lain yang dapat penuhi kebutuhan orangtua mereka. anehnya, malah timbul kerasa sombong. terasa diri amat berjasa pada keluarga spesialnya kepada ibunya sepanjang ini.

syukur, sedini itupula dia beristighfar. usai menelepon, ummu hamid lekas mentransfer beberapa dana kepada ibunya. kali ini dia terlebih lagi terencana melebihkan dari lazimnya. selepas transaksi, berulang ummu hamid mengecek saldo rekeningnya. dana yang sedianya buat membayar cicilan rumah saat ini nampak kian menurun. lagi - lagi otaknya berpikir keras. ke mana dia mencari ekstra dana buat cicilan tersebut.

ummu hamid tidak mau menyesal karna telah meringankan kebutuhan ibunya. kebalikannya dia pula tidak dapat menunda pembayaran cicilan karna terancam denda cukup besar. dikala ini ummu hamid cuma dapat menyicil rumah, suatu kemauan yang sudah lama terpendam. mempunyai rumah seorang diri berbarengan keluarganya.

masih dengan perasaan gulana, ummu hamid lekas mengambil air wudhu. dia terasa tidak memiliki pelarian lagi kecuali shalat 2 rakaat, bersimpuh di hadapan kebesaran allah subhanahu wa ta’ala (swt). baru tuntas salam, seketika suaminya tiba mengetuk pintu rumah. terdapat lara yang membuncah, mau lekas dia mengadu kepada suaminya. tetapi ummu hamid berupaya menahan sekuat tenaga. dia tidak ingin menaikkan lelah suaminya yang baru kembali dari pekerjaannya di kantor.

“dinda, alhamdulillah terdapat rezeki tidak disangka di kantor tadi, ” ucap suaminya membuka obrolan sembari tersenyum.

“pak rahman tiba melunasi pinjamannya yang 3 tahun kemudian itu. entahlah, seketika aja dia tiba ke kantor tadi, ” imbuh suaminya sembari menyerahkan suatu amplop tebal.

“allahu akbar…! ”

ummu hamid tanpa siuman berpekik takbir. dia seorang diri sudah kurang ingat hal - hal duit piutang itu. waktu itu mereka cuma bernazar membantu pak rahman, karib suaminya itu.

dengan gemetar ummu hamid lekas membuka amplop itu. lembar demi lembar nampak dari dalam amplop. lembaran itu terlebih lagi masih lengkap dengan jalinan indikator dari bank.

subhanallah, lagi - lagi dia kira - kira berteriak. duit tersebut nyatanya persis 200 kali lipat dari jumlah yang baru aja dia transfer kepada ibunya tadi. masih dalam sujud syukurnya, suatu pesan pendek masuk atas nama ibunya.

“nak, terima kasih ya. kata adikmu terdapat duit masuk ke rekening bunda. mudah - mudahan rezekimu berkah dan juga berlimpah. maafkan bunda yang senantiasa merepotkanmu. ”

ridho allah, ridho orangtua

dalam islam, ridho allah subhanahu wata’ala berhubungan dengan ridho kepada kedua orangtua. karna itu hadits berkata, ridho allah berbarengan dengan ridho orangtua, kemurkaan allah karna murkanya orangtua.
عَنْ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( رِضَا اَللَّهِ فِي رِضَا اَلْوَالِدَيْنِ, وَسَخَطُ اَللَّهِ فِي سَخَطِ اَلْوَالِدَيْنِ ) أَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ

nabi shallallaahu alaihi wasallam (saw) bersabda: “keridhaan allah bergantung kepada keridhaan orangtua dan juga kemurkaan allah bergantung kepada kemurkaan orangtua. ” (riwayat at - tirmidzi. hadits shahih bagi ibnu hibban dan juga hakim).

keridhaan orangtua dimulaikan dari buah ketulusan. berapapun harta yang dikasih anak kepada orangtua, tetapi tidak diiringi ketulusan, pastinya tidak menemukan jaminan ridha dari orangtua.

karena ridha orangtua tidaklah perkara berapa nominal harta ataupun modul yang lain. atensi tulus, kemauan buat mengasyikkan, menolong, memuliakannya, senantiasa mendoakan dan juga membahagiakan kedua orangtua seperti itu yang melahirkan keridhoannya.

sayangnya tidak banyak yang menyadari perihal tersebut. kalau harta, kesenangan, dan juga kebahagiaan yang direguknya saat ini cumalah cipratan berkah dari sujud panjang dan juga munajat ikhlas dari orangtua kepada anak - anaknya. anak itu sering - kali kurang ingat, menyangka apa yang dia miliki saat ini merupakan hasil jerih payahnya seorang diri.

ippho santosa menuliskan dalam novel 7 keajaiban rezeki, kala doa orangtua selaras dengan doa yang dipanjatkan oleh seseorang anak, tentu doa - doa tersebut hendak lebih ‘melangit’. whatever hendak terpanjat dengannya sampai jadi lebih gampang diijabah oleh - nya nanti. */

rizky n. dyah, seseorang guru tinggal di kutai barat





(sumber: hidayatullah. com)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

ads
Diberdayakan oleh Blogger.

Total Tayangan Laman