TUTUP!!! Klik 2x...

FAKTA ! Suka tidak suka, Eksistensi NKRI Itu Warisan Politisi Muslim

Eksistensi nkri itu peninggalan politisi muslim
oleh: lukman hakiem, pemerhati sejarah/ mantan staf perdana menteri meter natsir

===========

seseorang sarjana perancis, remy madinier, dalam studinya menimpa partai politik islam masyumi, mencatat kalau pada episode terakhir perjuangan merebut kemerdekaan yang begitu dramatis, di badan masyumi mencuat wujud kenegarawanan dari 3 tokoh pemimpinnya (mr. sjafruddin prawiranegara, mr. mohamad roem, dan juga mohammad natsir) , ketiganya memainkan kedudukan yang amat berarti dan juga memastikan.

buat memastikannya ayo kita bahas satu - satu tokoh muslim indonesia yang begitu besar jasanya untuk pembuatan negeri bangsa tercinta ini:

mr sjafruddin prawira negeri dan juga pdri

sejarah negeri ini bisa jadi hendak lain jalannya bila tidak timbul inisiatif sjafruddin prawiranegara (1911 - 1989) buat membentuk pemerintah darurat republik indonesia (pdri) di sumatera lekas seusai ibukota yogyakarta diduduki tentara belanda, presiden sukarno, wakil presiden mohammad hatta, dan juga sebagian menteri ditangkap belanda pada 19 desember 1948.
mendengar kejadian tersebut, sjafruddin yang lagi berposisi di bukittinggi lekas mengumpulkan sebagian tokoh buat mangulas pertumbuhan suasana.

tanpa mengenali kalau presiden dan juga wakil presiden telah mengirim kawat kepadanya buat membentuk sesuatu pemerintahan darurat, sjafruddin dan juga kawan - kawan memproklamirkan berdirinya pdri, terhitung semenjak 22 desember 1948. sjafruddin yang diseleksi jadi kepala pdri, terencana tidak memakai istilah presiden buat jabatannya. perihal itu, bagi pengakuannya seorang diri, “disebabkan karna aku belum mengenali terdapatnya mandat presiden sukarno dan juga karna didorong oleh kerasa keprihatinan dan juga kerendahan hati. ”

kekuasaan pdri nyatanya amat efisien. itu mampu dibuktikan oleh 3 perihal. kesatu, dipatuhinya seluruh perintah pdri oleh para pemimpin di jawa –termasuk oleh panglima besar jenderal sudirman. kedua, betapa keras usaha belanda menghantam pdri, sampai - sampai belanda mengutip ejekan kalau pdri tidak lain dari pemerintah dalam rimba indonesia. ketiga, pesan - pesan radio pdri mampu diterima dengan baik di new delhi, dan juga mengilhami pemimpin india, jawaharlal nehru buat menyelenggarakan konferensi inter - asia guna menunjang indonesia. konferensi dihadiri oleh wakil - wakil dari afganistan, australia, saudi arabia, myanmar, ethiopia, irak, mesir, libanon, pakistan, filipina, srilangka, dan juga yaman bagaikan partisipan. ada juga wakil - wakil dari republik rakyat Cina (rrt) , nepal, selandia baru, dan juga thailand muncul bagaikan peninjau.

ekspedisi bangsa indonesia pula bisa jadi hendak lain jadinya bila sjafruddin selaku kepala pdri tidak bersedia menyerahkan berulang kekuasannya kepada bung karno dan juga bung hatta, seusai sukarno - hatta “meninggalkan” pdri dalam negosiasi yang melahirkan persetujuan roem - van roijen, 7 mei 1949.

tentang perihal ini, terdapat baiknya kita menyimak evaluasi sjafruddin terhadap mr. mohamad roem bagaikan berikut: “hanya sekali ia (roem) ‘menyeleweng’. ialah tatkala ia melangsungkan perintah atas permintaan sukarno –yang waktu itu bukan berprofesi presiden karna lagi dalam pembuangan—untuk berdialog dengan van roijen, yang menciptakan apa yang umum diucap ‘pernyataan roem - van roijen’ (mei 1949). ia berani berdialog, seolah - olah tidak terdapat pdri. sementara itu pdri pada waktu itu merupakan salah satunya pemerintah yang legal.. . . namun karna aku percaya tentang integritas dari roem dan juga kawan - kawan lain yang menyokong pembicaraan roem dengan van roijen, kami senantiasa bersatu meski berubah pendirian. persatuan inilah yang kesimpulannya bawa kemenangan! ”


wapres mohamad hatta mengecek pasukan kehormatan di linggarjati, cirebon, 17 november 1946.




mr moh roem dalam perjanjian berbarengan van roijen

konferensi inter - asia menekan perserikatan bangsa - bangsa (pbb) supaya melaksanakan bermacam upaya memulihkan pemerintahan republik indonesia. antara lain karna desakan itu, lahir resolusi dewan keamanan pbb bertepatan pada 28 januari 1049 yang pada pokoknya memohon belanda menghentikan agresi milter, melepaskan para pemimpin republik, dan juga berulang ke meja negosiasi.
belanda yang terus menjadi terjepit letaknya, masih berupaya mengelak dari kewajiban penuhi resolusi dk - pbb.
wakil paling tinggi ratu belanda di indonesia, dokter. beel, menganjurkan para pemimpin ri yang ditawan di bangka buat terbang ke den haag guna mendatangi konferensi meja bulat (kmb). usul beel itu ditolak. para pemimpin ri menuntut biar saat sebelum dilaksanakan kmb, peran pemerintah ri lebih dahulu dipulihkan. perilaku para pemimpin ri di bangka, didukung oleh para pemimpin yang tidak ditawan oleh belanda, ialah dokter darmasetiawan, dokter halim, dan juga meter natsir.

sehabis tidak sanggup mengelak dari tekanan dunia internasional, pada 14 april 1949 diselenggarakan negosiasi antara belanda dengan indonesia di jakarta. delegasi belanda dipandu oleh dokter. j. h. van roijen. delegasi indonesia dipandu oleh mr. mohamad roem (1908 - 1983).

negosiasi yang berakhir pada 7 mei 1949 itu menciptakan statment roem - van roijen bagaikan suatu “pernyataan permulaan menimpa kembalinya pemerintah republik indonesia ke yogyakarta. ”

atas dasar statment roem - van roijen, tentara belanda ditarik dari yogyakarta, presiden sukarno dan juga wakil presiden mohammad hatta dan para pemimpin ri dibebaskan dan juga dipulangkan ke yogyakarta, dan juga itu berarti pemerintahan ri berperan berulang serupa sedia ketika.

bagaikan salah satu episode dari penggalan akhir revolusi kemerdekaan saat sebelum kmb yang melahirkan pengakuan belanda dan juga dunia internasional secara utuh dan juga merata atas kemerdekaan negeri republik indonesia (serikat) , statment roem - van roijen merupakan dokumen memiliki yang amat berarti untuk kelanjutan eksistensi ri. untuk roem, statment itu telah menempatkan tokoh kelahiran parakan, temanggung, jawa tengah, itu dalam deretan nama - nama diplomat dunia dengan hasil karya yang senafas dengan nama pribadinya.

benar, statment roem - van roijen nyatanya menyisakan permasalahan di golongan pemimpin dan juga pejuang pdri bagaikan pemegang kendali pemerintahan yang riil dikala para pemimpin pemerintahan ditawan oleh belanda. pdri terasa ditinggalkan. panglima besar jenderal soedirman yang dalam kondisi sakit mengetuai gerilya, tidak terima dengan pemakaian sebutan “pengikut republik yang bersenjata” dalam statment roem - van roijen. untuk soedirman, pemakaian sebutan itu seolah - olah menyangka angkatan perang ri bagaikan gerombolan bersenjata.

kemarahan kedua pemimpin perjuangan itu, tentu menggelisahkan. jenderal tb simatupang mencatat, sehabis yogyakarta berulang ke pangkuan bunda pertiwi, saat ini yogyakarta menunggu kehadiran sjafruddin prawiranegara dan juga jenderal soedirman.

kehadiran sjafruddin dan juga soedirman untuk para pemimpin yang sudah berposisi di yogya, amat krusial. bukan aja buat kelanjutan proses perjuangan, namun terlebih lagi untuk keutuhan ri. bukankah keduanya yang mengetuai perjuangan, terlebih lagi mengetuai negeri, kala sukarno dan juga hatta ditawan belanda. dan juga saat ini “yogya telah kembali”, namun kembalinya yogya bukan karna keputusan mereka. “yogya kembali” merupakan hasil negosiasi antara belanda dengan utusan yang dinaikan oleh pejabat yang secara resmi tidak lagi berkuasa.

hendak namun, sjafruddin dan juga soedirman nyatanya berulang pula ke yogya. kedua pemimpin telah menampilkan mutu dan juga integritas pribadinya dengan berani meninggalkan kepentingan subjektif, dan juga memilah nilai yang lebih besar, ialah memenangkan perjuangan berbarengan. sjafruddin dan juga soedirman berulang ke yogya demi keutuhan perjuangan.
pembuatan pdri, statment roem - van roijen, dan juga yogya berulang, memperlihatkan dengan jelas warna opsi yang diambil oleh para pemimpin pendahulu kita sehabis atmosfer dilematis teratasi, ialah suatu ikhtiar menegakkan etika kekuasaan (the ethics of power).

melansir ahli sejarah, profesor. taufik abdullah, ikhtiar menegakkan etika kekuasaan itu tercermin dalam kalimat pendek kepala pdri, sjafruddin prawiranegara, dalam persidangan kabinet pada 13 juli 1949: “pdri tidak memiliki komentar tentang statment roem - van roijen, hendak namun seluruh akibat yang ditimbulkannya kita tanggung berbarengan. ”

kepala/presiden pdri, syafruddin prawiranegara


tidak sempat terdapat permasalahan antara islam dan juga kebangsaan
pembuatan pdri, statment roem - van roijen, mosi integral natsir yang mengembalikan negeri republik indonesia dari wujud negeri federal (ris) ke negeri kesatuan (nkri) , bukan aja menggambarkan episode terakhir dari revolusi kemerdekaan, namun pula menyajikan dalil tidak terbantahkan kalau di saat - saat amat kritis untuk eksistensi ri, para politisi muslim telah membagikan kedudukan yang amat signifikan.

benar, amat jelas sekali apabila dikala itu betapa tidak mudahnya jadi indonesia. tetapi, para pendahulu kita dengan triknya tiap - tiap telah meretas jalur ke arah pembuatan negara - bangsa indonesia. di antara yang telah berikan kedudukan cukup signifikan yakni umat islam.
yang tidak kalah berartinya, sebetulnya semenjak dulu tidak sempat terdapat permasalahan antara islam dengan kebangsaan. kita mampu jadi muslim yang taat yang dengan riang gembira menyanyikan indonesia tanah airku.

hingga, mereka yang saat ini seketika sangat bergairah bicara soal nkri, bacalah sejarah dengan jujur dan juga benar.. . !







(sumber: http:// yesmuslim. blogspot. com/2016/12/fakta-suka-tidak-suka-eksistensi-nkri.html)


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

ads
Diberdayakan oleh Blogger.

Total Tayangan Laman