TUTUP!!! Klik 2x...

Sebuah Kesaksian Long March Ciamis, Santri: Saya Menggantikan Bapak (Sudah Meninggal) Jihad Membela Agama

Suatu kesaksian long march ciamis

penantian aku dan juga orang - orang yang berbaris di sejauh jala raya cileunyi (bandung) , tidak percuma juga tidak surut walaupun hujan terus mengguyur.

begitu rombongan pendemo dari ciamis yang berjalan kaki timbul dari kejauhan, seluruh bersiap. kami berdiri, berbaris panjang sekali di tepi jalur, menenteng kresek dan juga kardus berisi seluruh berbagai yang dapat kami bagikan. air minum dalam kemasan, hansaplast, jamu dalam kemasan sachet siap minum, masker buat jaga - jaga bila nanti gas air mata disemburkan penguasa, sandal jepit, jas hujan dan juga baju ubah, plus sekantung plastik roti, donat, permen, buah, kemilan dlsb dalam satu plastik berupa paketan, kami bagikan.

mereka, menerima dengan amat bahagia hati. takbir bersahutan tiada henti. hujan, banjir, tidak menyurutkan massa buat berkumpul memanjang dari ujung jalur raya cileunyi hingga bundaran cibiru, dan juga sejauh jalur soekarno - hatta hingga kantor perhutani soekarno – hatta.

yang membikin aku merinding, seseorang santri kecil berumur 8 tahun, nampak turut berjalan berbarengan rombongan. tanpa alas kaki, mengatupkan kedua telapak tangan dan juga menggigil kedinginan diguyur hujan.

lekas aku “tewak” (renggut) dan juga tarik ke pinggir anak itu.

“sandalnya mana? ” tanya aku.

“putus, bu. jadi aku buang…” katanya.

seseorang dari kami menyodorkan sejoli sandal jepit baru.

“bawa pakaian ubah? ” tanya aku lagi.

anak itu menggeleng.

aku tarik kian ke tepi, pas di teras bank bjb ini. aku memohon ia melepas plastik kantung yang dipakainya buat menahan hujan. nyatanya pakaian seragam santri yang dipakainya juga basah kuyup. lekas kami sodori sehelai kaos panjang dan juga celana training panjang, kemudian ia mengenakan jas hujan yang pula kami sodorkan.

“kenapa turut? ” tanya aku.

“ngagentosan (mengambil alih) juga bapa (bapak aku) …” jawab anak lelaki itu.

“bapa ade ka mana (bapakmu ke mana) ? ” tanya aku sembari menggenggam kan sebagian lembar duit.

“atos ngatunkeun (sudah tiada) …” jawab seseorang santri berusia yang timbul di belakangnya.
terdapat kerasa perih yang menyayat perut di dasar iga kanan aku.

entah apa yang terdapat di benak para penghina, penyinyir dan juga penista yang kedua orang tuanya masih lengkap, berumur berusia, memiliki pengeluaran, duit banyak, gagah perkasa dan juga ia muslim, tetapi bisanya hanya menyinyiri, menista dan juga menghina…

rombongan melalui, seluruh logistik paketan habis kami bagikan. tinggal logistik dalam wadah kardus dan juga karung. kami naikkan ke ambulance dan juga mobil - mobil bertanda rombongan.

tetiba aku terbuat kaget. satu demi satu gadis - gadis berjilbab lebar itu bergantian memeluk aku dan juga silih berpelukan antar sesamanya dengan mata basah.


perkataan syukur dan juga tangis kegembiraan mereka, pula merasa menyayat hati aku.

“bu, mari ikut…! ” teriak anak wanita berjilbab lebar dan juga mengendarai sepeda motor. aku diajak turut mengiringi laju rombongan itu berbarengan kanak - kanak lain, dengan motor mereka.

bahagianya hari ini, melupakan derita perih di hari kesatu datangnya “tamu bulanan” saya… [ppi]






(sumber: http:// www. postmetro. co/2016/12/sebuah-kesaksian-long-march-ciamis.html )

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

ads
Diberdayakan oleh Blogger.

Total Tayangan Laman