TUTUP!!! Klik 2x...

Pahlawan yang Terlupakan, Menjadi Pengemis Hingga Akhir Hidupnya

Negara ini telah mencapai kemerdekaannya 70 tahun silam. tetapi, kemerdekaan itu tidak dan merta didapatkan begitu aja. perjuangan dan juga pengorbanan yang berbentuk nyawa, darah, keringat dan juga air mata telah dicurahkan demi mencapai kemerdekaan yang hakiki. tetapi, buat siapa sejatinya kemerdekaan tersebut? seluruh itu buat kita seluruh, bangsa indonesia.

tetapi, kita yang hidup di jaman ini seolah menutup mata. kita melupakan orang - orang yang telah berjuang merebut kemerdekaan ini dari tangan para penjajah. sementara itu tanpa mereka, kita tidak bisa jadi dapat hidup serupa saat ini ini. tetapi, tidak sedikit para pejuang yang hidup terlunta - lunta dan juga mengidap di masa tuanya. sedangkan, kita cuma padat jadwal dengan urusan kita seorang diri tanpa mempedulikan apa yang terjalin pada mereka. mana balas budi kita atas jasa yang telah mereka jalani buat kita dan juga negara ini?

mengingat jasa para pahlawan tidak cukup cuma dengan memperingati hari kemerdekaan dengan upacara bendera dan juga mengadakan bermacam perlombaan. tetapi, kita doakan mereka yang telah gugur di medan perang dan juga kita topang kehidupannya untuk yang masih hidup. jangan perkenankan para pejuang yang masih hidup wajib hidup mengidap dan juga terlunta - lunta di masa tuanya. perihal ini dirasakan oleh salah satu pejuang kemerdekaan yang di masa tuanya hingga wajib jadi seseorang pengemis buat membiayai hidupnya seorang diri. berikut cerita getir pahit kehidupannya.

anwar, komandan kompi 3 sumatera penggalan selatan, dengan pangkat letnan satu.

pemimpin yang mahir 4 bahasa. ia fasih berdialog bahasa inggris, jepang, belanda dan juga tentu aja bahasa indonesia. hendak namun, kerasnya hidup menyeret anwar, ke lumbung kemiskinan. si letnan tiarap pada kehidupan.

“tak butuh. jangan diucap lagi masa kemudian. itu sudah habis. jangan dikenang lagi, ” tutur anwar ketika itu dikala ia masih hidup.

anwar betul - betul keras. susah memintanya bicara banyak. “saya lagi berupaya. jangan diganggu. ini belum makan, amati itu, belum berisi, ” ucap anwar menunjuk ember biru yang terdapat di depannya. ember itu terencana disediakan, buat orang melontarkan duit bagaikan bentuk dari kerasa iba terhadapnya. seakan, perkataan anwar suatu isyarat : bahwa ingin bicara, isi ember itu. kira - kira setegah jam peduli, anwar kesimpulannya menyerah. ia ingin bicara. tentang hidupnya. “tapi jangan diputarbalik apa yang aku katakan, ” ucap anwar yang sempat pula bekerja bagaikan kelasi kapal berbendera jerman barat.

tanah kuranji merupakan tempat kesatu yang menyongsong kelahiran anwar. ia terlahir dari keluarga petani, 94 tahun kemudian. masa mudanya dihabiskan di pinggiran kota padang itu. anwar merupakan jebolah sekolah 9 (saat ini balik tangsi - red) tahun 1930. lepas sekolah rakyat, anwar mulai bekerja serabutan. kesimpulannya ia diterima bagaikan kelasi kapal. tahun 1932 hingga 1939 anwar berlayar. dalam kurun waktu itu tidak sedikit keragaman budaya yang dilihat pak tua. “saya lulus sekolah balik tangsi 1930. berikutnya berlayar 7 tahun mengelilingi asia hingga ke australia. setelah itu kembali buat berjuang. aku tidak ingin berhura - hura di atas kapal, sedangkan bangsa kita lagi berjuang merebut kemerdekaan. naluri kebangsaanlah yang memanggil jiwa buat turut berjuang, ” cerah anwar.

anwar muda sudah terbiasa berperang. ia hidup buat berpetualang. melintasi medan. bergerilya. menunggu dikala yang pas melanda tentara belanda. “saya sisa tentara sumatera selatan. komandan kompi 3. tidak terkira derita. masa pergerakan betul - betul susah. desing peluru, bau mesiu, mayat dan juga simbahan darah perihal biasa. pelepas penat dan juga kebanggaan ketika itu, sewaktu kembali ke barak, kita bawa topi serdadu, ataupun benda rampasan perang yang lain, ” ulas anwar.

lubang kecil sisa hantaman peluru yang menghiasi kaki kananya, jadi fakta keikutsertaan anwar berjuang buat bangsa. karna tembakan itu, saat ini ia berjalan pincang. “kaki ini ditembus peluru di jalur jakarta (simpang presiden - red). waktu itu hari masih pagi. perjanjian linggarjati baru aja disepakati. tetapi aziz chan menentang perjanjian itu. belanda marah dan juga mengamuk. melanda membabi buta di tengah kota. hasilnya, ya kaki ini kena tembak waktu ingin kembali ke barak, ” cerah anwar.

bukan hanya ditembak. anwar sempat terasa pengap hidup di balik jeruji besi. “empat tahun aku dibui. tertangkap waktu bergerilya, dari padang dengan tujuan payokumbuah yang waktu itu, tahun 1946 lagi bergejolak. ketika melewati padangpanjang aku tertangkap belanda. waktu itu, peluru habis sedangkan kaki aku masih sakit. aku digiring, kaki dirantai, diberi kalangan besi, “ungkap anwar berupaya merunut berulang petualangan masa lalunya.

di panjangpanjang, anwar diperlakukan tidak senonoh oleh belanda. hantaman bokong senjata, sayatan belati hingga dituntut minum air berkemih. tetapi si letnan senantiasa tegar. kepalanya tegak, walaupun kucuran darah dari pelipisnya tidak menyudahi. “penjara dahulu, bukan serupa saat ini. dahulu, tangan diikat kawat berduri, kaki dirantai kalangan besi. saban hari kena jam. terlebih lagi, buat minum, mereka berikan air putih yang dicampur berkemih, ” celoteh anwar.

jangan pertanyakan nsionalisme pada anwar. kecintaannya pada indonesia tidak sempat surut. terus berkobar. “saya sempat ditanya tentara belanda. apakah aku berjuang dan juga jadi tentara karna cuma peran dan juga jabatan semata? aku jawab apa terdapatnya? berjuang buat negeri, bukan peran. apabila nanti mati di mari. aku bangga, karna itu demi negeri, ” ucap anwar.

anwar berjuang terus. hingga ia seorang diri kurang ingat hendak keluarganya. anwar sempat menikah dengan seseorang perempuan balik olo. tetapi cuma sebentar anwar mengecap indah rumah tangga. istrinya mati karna kolera dan juga ketiadaan konsumsi gizi, turut pula tiada anak yang di milikinya. anwar baru ketahui istrinya tiada 4 bulan setelah itu, tepatnya dikala ia kembali bergerilya.

lepas dari itu, indonesia kesimpulannya merdeka dengan penuh. tetapi tidak begitu untuk anwar. tidak terdapat penghargaan yang diterimanya. pengorbanan dan juga perjuangannya yang dikibarkannya seolah dibiarkan. anwar lenyap di tengah gegap gempita kemerdekaan. ditambah kematian istri, seakan pembawa petaka. anwar ketiadaan antusias hidup. pernah terjerumus ke dunia gelap. anwar tobat. tetapi, hidup benar tidak sempat berpihak pada anwar. terus menjadi terlunta - lunta. sampai jalur bagaikan pengemis jadi opsi terakhirnya.

tidak terdapat ciri jasa. tidak terdapat lencana penghormatan yang diterima anwar. terlebih lagi gelar pahlawan pensiunan juga tidak singgah. “saya tidak perlu whatever. dahulu, aku berjuang bukan buat memperoleh ciri jasa. aku berjuang buat negeri. tidak butuh ciri jasa terlebih duit. biarlah hidup begini, asal tidak menganggu teman . aku rela. benar, terdapat kawan yang turut mengangkut senjata mayoritas tenang menempuh masa tuanya. aku tidak suka itu, untuk aku berjuang bukan buat kemapanan masa tua, ” jawab anwar. ia lekas berdiri, berangkat memohon segelas air kepada orang dagang di depan masjid  (AL) mubarah, sawahan.

benar, dahulu anwar sempat diberi sertifikat pensiunan. tetapi karna jalur hidupnya yang kerap berpindah tempat “surat sakti” itu raib entah kemana. sementara itu, tulisan itu merupakan bagaikan landasan anwar buat menerima haknya bagaikan pensiunan. “kalau tidak salah tulisan bintang gerilya. tetapi tulisan itu sudah lenyap. kata orang tulisan itu merupakan ketentuan buat menerima tunjangan dari pemerintah. tetapi tidak apalah, aku pula tidak butuh itu. kan sudah aku katakan bahwa aku berjuang bukan buat duit terlebih jabatan. meski meminta - minta tetapi aku tidak menyusahkan teman . aku sudah sempat hidup bahagia di atas kapal. saat ini saatnya sulit, ” kata anwar.

letnan anwar. si pahlawan saat ini telah tiada di masa pembangunan. ia tidak menerima apa - apa dari perjuangan. sebatas penghormatan juga tidak. anwar terlupakan. bangsa ini betul - betul sudah berdosa padanya.

veteran - perang - kemerdekaan - dijadikan - bahan - olok - olokan

tidak cuma letnan anwar aja yang masih wajib hadapi pahitnya kehidupan di masa tuanya. masih banyak lagi para pejuang yang terlupakan sampai wajib hidup sengsara di masa tuanya. masa di mana sepatutnya mereka dapat hidup tenang merasakan manisnya buah perjuangan mereka dikala masih muda, tetapi yang mereka mampu cuma kerasa bangga atas perjuangan mereka yang menjadikan negara ini jadi negara yang merdeka. mereka cuma dapat memandang generasi penerus mereka hidup senang dan juga merasakan hidup merdeka di tanah ini walaupun mereka seorang diri masih wajib berjuang demi hidupnya seorang diri tanpa terdapat yang hirau pada nasib mereka.

mudah - mudahan surga balasan untuk para pahlawan - pahlawan yang saat ini telah gugur. terima kasih pahlawanku. tanpa jasa - jasamu kami tidak hendak dapat hidup serupa saat ini ini. maafkan kami yang telah berdosa karna tidak mempedulikanmu semasa hidup kamu terlebih lagi meremehkanmu di dikala ragamu tidak lagi muda dan juga gagah. mudah - mudahan upayamu memerdekakan negara ini tidak hendak sempat percuma. kami banyak berhutang budi padamu.

pahlawan - jadi - pengemis - jalanan

sumber: wajibbaca. com











(Sumber: http:// islamidia. com/pahlawan-yang-terlupakan-menjadi-pengemis-hingga-akhir-hidupnya/ )

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

ads
Diberdayakan oleh Blogger.

Total Tayangan Laman