TUTUP!!! Klik 2x...

Inilah Tindakan Umar Bin Khatab Saat Rakyatnya Masak Batu Karena Miskin

baru - baru ini nitizen dihebohkan dengan kehidupan keluarga iyah, perempuan asal cianjur yang amat miskin sampai - sampai tidak sanggup penuhi kebutuhan hidup. karna bimbang memandang keadaan anaknya yang kelaparan, iyah berupaya mengelabuhi anaknya dengan memasak batu.

dia berharap trik ini mampu mengasyikkan anak - anaknya yang kelaparan karna mengira ibunya tengah memasak suatu. begitu potret sisi lain kehidupan yang amat menyayat hati. beruntung terdapat pihak kepolisian setempat yang terenyuh dan juga lekas menolong keluarga iyah.

nyatanya keadaan serupa ini sudah sempat terjalin pada masa kekhalifahan umar bin khatab. bagaikan pemimpin pada ketika itu, umar amat terpukul memandang rakyatnya mengidap kelaparan, terlebih lagi dia hingga menghukum pribadinya seorang diri karna cemas menemukan hukuman dari allah di akhirat nanti. apa yang dicoba umar? berikut ulasannya.

pada masanya umar menggambarkan pemimpin yang gemar melaksanakan blusukan. tetapi blusukan ini dicoba pada malam hari, sampai - sampai tidak terdapat satu orang juga yang mengenali. dengan trik ini, umar dapat ketahui gimana kehidupan rakyat yang dipimpinnya.

pada sesuatu kala itu wiilayah yang dipandu umar hadapi peceklik panjang yang diucap dengan tahun abu. keadaan ini membikin tumbuhan jadi mengering, tanah tandus, dan juga hujan juga tidak kunjung tiba sampai - sampai tanah jadi menghitam seperti abu.

tiap hari umar memerintahkan aparatnya buat menyembelih onta dan juga membagikannya kepada rakyatnya. hatinya terus menjadi pedih kala memandang banyak rakyatnya kelaparan. dia terlebih lagi pernah berdoa, “ya allah, jangan hingga umat muhammad menemui kehancuran di tangan ku. ”

pada masa itu umar menabukan makan daging, minyak samin, dan juga susu buat perutnya seorang diri. perihal ini dicoba buat membenarkan santapan tersebut dikasih kepada rakyatnya. dan juga mengerti kah kamu apa yang dia makan? umar cuma makan sedikit roti dengan minyak zaitun.

tetapi perutnya makin meningkat panas dan juga berbunyi nyaring. bila sudah demikian, dia menabuhkan perutnya dengan jemari dan juga mengatakan, “berkeronconglah sesukamu, dan juga kau hendak senantiasa menjumpai minyak, hingga rakyatku dapat kenyang dan juga hidup dengan normal. ”

pada sesuatu malam umar mengadakan blusukan dengan teman - temannya yang bernama aslam. dia mau mengenali kehidupan rakyatnya. umar takut bila terdapat hak - hak mereka yang belum ditunaikan oleh aparat pemerintahannya.

sampailah dia di sesuatu perkampungan kecil di daerah madinah. dikala melaksanakan ekspedisi di kampung yang tandus tersebut, umar menciptakan tenda lusuh ditengah - tengah gurun tandus tersebut.

dari dalam tenda dia mendengar wanita kecil menangis yang tidak menyudahi. dikala hendak mendekati tenda itu, umar terkaget karna memandang seseorang perempuan berusia lagi duduk diperapian. perempuan tersebut nampak mengaduk - aduk bejana di atas tungku api. asap mengepul - ngepul dari panci itu, sedangkan sang bunda terus aja mengaduk - aduk isi panci dengan suatu sendok kayu yang panjang.

“assalamu’alaikum, ” umar berikan salam.

mendengar salam umar, bunda itu mendongakan kepala seraya menanggapi salam umar. tetapi sehabis itu, dia berulang pada pekerjaannya mengaduk - aduk isi panci.

“siapakah gerangan yang menangis di dalam itu? ” tanya umar.

dengan sedikit tidak hirau, bunda itu menanggapi, “anakku…. ”

“apakah dia sakit? ”

“tidak, ” jawab sang bunda lagi. “ia kelaparan. ”

mendengar perihal tersebut, umar dan juga aslam tertegun lama. tetapi mereka tidak banyak bicara dan juga senantiasa duduk di depan kemah hingga lebih dari satu jam membenarkan bunda tersebut membagikan masakannya kepada anaknya. tetapi sepanjang mereka disitu wanita kecil di dalam tenda itu tidak menyudahi menangis. sebaliknya ibunya terus mengaduk - aduk isi pancinya.

karna begitu lama, umar juga terasa tidak habis pikir dengan aksi yang dicoba perempuan tersebut. dia berpikir tentang apa yang lagi dimasak oleh bunda itu? karna sudah begitu lama tetapi belum pula matang. karna tidak tahan, kesimpulannya umar mengatakan, “apa yang lagi kau masak, hai bunda? mengapa tidak matang - matang pula masakanmu itu? ”

bunda itu menoleh dan juga menanggapi, “hmmm, kau lihatlah seorang diri! ”

umar dan juga aslam lekas menjenguk ke dalam panci tersebut. alangkah kagetnya kala mereka memandang apa yang terdapat di dalam panci tersebut. sembari masih terbelalak tidak yakin, umar berteriak, “apakah kau memasak batu? ”

wanita itu menanggapi dengan menganggukkan kepala.

“buat apa? ”

tetapi jawaban ini begitu membikin hati umar tersayat - sayat dan juga sakit. dengan suara lirih, wanita itu berulang bersuara menanggapi persoalan umar.

“aku memasak batu - batu ini buat menghibur anakku. inilah kejahatan khalifah umar bin khattab. dia tidak ingin memandang ke dasar, apakah kebutuhan rakyatnya sudah terpenuhi belum. lihatlah saya. saya seseorang janda. semenjak dari pagi tadi, saya dan juga anakku belum makan apa - apa. jadi anakku juga kusuruh berpuasa, dengan harapan kala waktu berbuka kami menemukan rejeki. tetapi nyatanya tidak. seusai magrib datang, santapan belum terdapat pula. anakku terpaksa tidur dengan perut yang kosong. saya mengumpulkan batu - batu kecil, memasukkannya ke dalam panci dan juga kuisi air. kemudian batu - batu itu kumasak buat membohongi anakku, dengan harapan dia hendak tertidur lelap hingga pagi. nyatanya tidak. bisa jadi karna lapar, sebentar - sebentar dia bangun dan juga menangis memohon makan. ”

bunda itu diam sejenak. setelah itu dia melanjutkan, “namun apa dayaku? begitu umar bin khattab tidak pantas jadi pemimpin. dia tidak sanggup menjamin kebutuhan rakyatnya. ”

perkataan tersebut membikin aslam mau menegur wanita itu. dia mau menarangkan kalau wanita ini tidak pantas menjelek - jelekan umar sedangkan umar saat ini lagi berposisi di hadapannya.

tetapi umar pernah menghindari aslam dan juga dengan air mata yang berlinang dia cepat - cepat kembali ke madinah. tanpa rehat lagi, umar lekas memikul gandum di punggungnya, buat dikasih kepada janda yang sengsara itu.

karna umar bin khattab nampak keletihan, aslam mengatakan, “wahai amirul mukminin, biarlah saya aku yang memikul karung itu…. ”

dengan muka merah padam, umar menanggapi sebat, “aslam, jangan jerumuskan saya ke dalam neraka. engkau hendak mengambil alih saya memikul beban ini, apakah kau kira engkau hendak ingin memikul beban di pundakku ini di hari pembalasan nanti? ”

jawaban ini membikin aslam tertunduk. dia masih berdiri mematung, kala tersuruk - suruk khalifah umar bin khattab berjuang memikul karung gandum itu.

khalifah umar lekas mengajak keluarga miskin tersebut makan sehabis masakannya matang. memandang mereka dapat makan, hati khalifah umar merasa tenang. santapan habis dan juga khalifah umar berpamitan. ia pula memohon perempuan tersebut menemui khalifah keesokan harinya.

“berkatalah yang baik - baik. esok temuilah amirul mukminin dan juga kau dapat temui saya pula di situ. insya allah ia hendak mencukupimu, ” kata khalifah umar.

dan juga benar, keesokannya perempuan tersebut menemui amirul mukminin. dia begitu kaget memandang wujud amirul mukminin yang nyatanya merupakan orang yang telah memasakkan santapan buat ia dan juga anaknya.

“aku mohon maaf. saya telah menyumpahi dengan perkata dzalim kepada engkau. saya siap dihukum, ” kata perempuan itu.

“ibu tidak bersalah, akulah yang bersalah. saya berdosa membiarkan seseorang bunda dan juga anak kelaparan di daerah kekuasaanku. gimana saya mempertanggungjawabkan ini di hadapan allah? maafkan saya, bunda, ” kata khalifah umar.

sejatinya seseorang pemimpin wajib dan juga harus berempati kepada nasib rakyatnya. terlebih lagi seseorang pemimpin yang baik, wajib membenarkan seluruh rakyatnya kenyang terlebih dulu saat sebelum ia makan suatu.




(sumber: infoyunik. com)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

ads
Diberdayakan oleh Blogger.

Total Tayangan Laman